Dinginnya sabtu malam membuat Ryl (baca Ril)
malas melangkahkan kaki untuk pulang. Tepat pada pukul sepuluh malam dia masih
berdiam di kamarku bersama dua orang lainnya, yaitu Alsya dan Kevin. Mereka
bertiga adalah saudaraku. Ryllyan yang masih menduduki kelas 4 SD, Kevin tepat
satu tingkat di bawah Ryllyan dan Alsya sedang semangat belajar untuk UN SD
yang beberapa bulan lagi akan dia hadapi. Setiap harinya selalu saja ada
pertanyaan-pertanyaan lucu yang membanjiriku, tapi tidak untuk hari ini.
Nampaknya mereka sedang serius. “Teh, bohong itu bolehkan?” tanya Ryl. “Yaa
boleh untuk hal tertentu. Misalnya untuk siasat perang, ada hal yang membahayakan
nyawa kamu, suami-istri yang kalau jujur malah mengakibatkan keburukannya makin
besar...” jawabku panjang lebar sambil memberi contoh satu persatu berharap
mereka mengerti maksudku dan tidak menyalahgunakan, lalu mereka mengangguk
mantap. Soal-soal yang tertulis di buku mereka kini telah penuh terisi, aku
kira mereka akan langsung berbegas pulang tapi mereka malah menagih cerita. Aku
bingung harus bercerita apa. Akhirnya, aku mendapat inspirasi karena Alsya
melantunkan surat An-Naba. Aku mengisahkan Fir’aun yang melampaui batas. “Ih
ngaku-ngaku jadi tuhan, parah banget ya teh” potong Ryllyan. Lalu aku lanjut
dengan mukzizat Nabi Musa a.s, “Hebat ya teh tongkatnya bisa jadi ular sama
bisa buat ngebelah lautan” masih ujarnya. Entah kenapa, pertanyaan mereka kian
semakin serius, aku agak gerogi hehe. Pertanyaan tentang Surga Neraka pun
mereka tanyakan. “Ada banyak cara menuju kesana (Surga). Rasul pernah bilang, kamu
akan bersama orang yang kamu cintai di akhirat nanti. Jadi, kalau kita mau
masuk Surga, setidaknya kita harus mencintai orang yang udah dijamin masuk
Surga, supaya kita bareng-bareng sama mereka. Jadi siapa yang harus kita
cintai?” aku bertanya sambil melihat mereka bergantian. Mereka menjawab kompak,
“IBU!!”, rautku yang kebingungan membuat mereka langsung memaparkan sebelum aku
bertanya. “Soalnya ya teh surga ada di telapak kaki ibu, pasti ibu masuk surga”
jelas Alsya. “Ga selalu loh Syaaa, ini yang bener-bener jelas di Al-Qur’an.
Siapa coba?” aku bertanya kembali, “OH! NABI MUHAMMAD YA TEH?!” teriak Ryllyan.
“Iyaa bener! Amal kita jauh kalau dibanding Rasulullah, tapi dengan kita
mencintai Rasul mungkin kita bisa bersama beliau entar.” jelasku singkat. “TETEH
CERITA LAGI!” tawar Ryl dan Kevin. Aku tidak meng-iya-kan tapi aku janji, besok
mereka boleh datang lagi untuk belajar atau hanya ingin mendengar kisah yang
lain. “Teh, besok jalan yuk ke SESKO?” bujuk Ryllyan. Huuhhhh, aku tidak bisa menolak.
Hujan turun deras ketika adzan subuh
berkumandang, “kayaknya ga jadi deh perginya, hujan gini” gumamku. Usai sholat
aku tidak membuka mukena yang kukenakan, aku masih memakainya karena hangat,
sampai aku tak sadarkan diri aku telah tertidur beberapa menit diatas sejadah,
segera kulepas mukena dan mengintip di jendela, ternyata hujannya sudah sedikit
reda. Tak lama kemudian terdengar suara Ryllyan “Teeehhhh abiiiiii!!”. “Iya
Ryl, bentar yaaa” jawabku sambil bergegas memakai kerudung. Kita berdua jalan
dari rumah-sesko-rumah. Selama diperjalanan Ryl menceritakan hal-hal yang dia
mau ceritakan, mulai dari cerita dia berjualan yogurt di sekolah, cerita dia
keliling bersepeda yang dikaitkan dengan motor, cerita tentang prestasinya
juara 3 dokcil, dan masih banyak lagi. Sampai akhirnya..............DUGGGG!! “ALLAHUAKBAR!!”
teriakku, Ya Allah ini sakit sekali, seperti sesuatu menimpukku. Ketika
kubalikan badan, tidak ini bukan sebuah timpukkan tapi tendangan yang tepat
terkena punggungku. Sontak Ryllyan dan aku melihat aneh kepada orang yang tadi
menendang punggungku dengan keras. Aku melihat jelas matanya yang melotot ke
arahku, nafasnya yang terdengar berat membuat aku semakin yakin dia marah
terhadapku. Tapi aku benar-benar bingung, aku melakukan salah apa? Beberapa
detik kemudian aku tersadar, aku sama sekali tidak mengenali siapa wanita yang
ada di hadapan ku ini—memakai baju pink, rambut dikuncir rapi—aku yakin
kejiwaan dia terganggu. Ketika aku semakin yakin dia tidak waras, aku lari dan
berteriak kepada Ryllyan “Ryl, lariiii, kayaknya dia gila” teriakku sambil
lari-lari kecil. Ryllyan nampaknya kaget dan lari sambil melempar semua apa
yang dia genggam. Air mineral yang baru aku beli untuknya dan uang 30.000
rupiah terlempar tepat di dekat kaki wanita itu yang kian ikut mendekat.
Beberapa kali Ryl terjatuh karena sepatunya yang licin berikut kita dalam
keadaan panik. Duh rasanya aku gagal menjadi seorang ateu, bukannya menarik
tangan Ryl dan menolongnya tapi aku malah sudah lari mendahuluinya. Maafin
teteh yaa Ryl..
“Neng jangan lari neng nanti makin di kejar”
ujur bapak yang ada di ujung jalan sana. Aku makin yakin wanita itu adalah
orang gila.
Ketika aku yakin Ryllyan tidak apa-apa. Kita memotong
jalan supaya wanita itu berhenti mengikuti kita. Singkat cerita, kita selamat. Dengan
menyisakan muka yang pucat kita saling bertatap, Ryllyan mengkhawatirkan
keadaanku yang tadi ditendang, akupun mengkhawatirkan keadaannya yang tadi
beberapa kali jatuh ketika sedang dikejar oleh orang gila. Setelah yakin kita
baik-baik saja, kita melanjutkan ke tujuan utama, SESKO AU. Aku aneh melihat tingkah
Ryllyan yang tiba-tiba memegang tanganku agak erat, aku melihat sekeliling,
ternyata tepat di depan kami berdiri bapak-bapak dengan rambut sepunggung dan
penampilan agak lusuh. “Tenang, itu bukan orang gila” bisikku ketika kita sudah
melewatinya.
Hari itu hari minggu pertama aku pergi
bersama Ryllyan tapi aku langsung membuatnya ketakutan. Maaf yaaa Ryl...






0 komentar:
Posting Komentar